Agen Poker Domino qq - Judi QiuQiu - Capsa Bandar Kiu Online Bandar Bola - Judi Bola - Judi Online - Taruhan Bola Terpercaya Agen Domino QQ, Bandar Poker, Judi Poker, Judi Domino, Agen Qiu Qiu, Qiu Qiu Online Agen Poker Domino qq - Judi QiuQiu - Capsa Bandar Kiu Online

Cerita Dewasa Pertemuan tidak sengaja dengan Tante Cantik Diana asal Medan di Bandung

Cerita Seks: Tante Diana – Pertemuan tak sengaja dengan Tante Diana Asal Medan di bandung

Panggil saja namaku Ardian. Aku masih semester akhir di sebuah Perguruan Tinggi ternama di Bandung. Kali ini aku ingin menceritakan momen pertemuan  dengan seorang wanita cantik istri salah seorang pengusaha di Medan, sebut saja namanya Tante Diana atau Tante D. Awal perkenalanku dengan Tante Diana ini sebetulnya sedikit karena faktor ketidaksengajaan. Kejadiannya setahun yang lalu, saat itu hari Minggu aku sedang sepeda santai pagi bersama beberapa rekan satu kost di seputaran alun-alun Bandung. Kami memang hampir secara rutin seminggu sekali bikin acara jogging atau sepeda santai rame-rame bersama rekan satu kosan. Waktu masih pagi sekali jam setengah 6 pagi, hari cukup cerah jadi jalan sekitar alun-alun sudah mulai ramai dengan pengunjung. Seperti biasa setiap Minggu pagi sampai sore, alun-alun memang selalu ramai penunjung yang ingin refreshing atau sekedar rehat liburan. Saat itu kebetulan kami berenam naik sepeda bersama teman satu kos dan tetangga kost sedang berhenti di sebrang jalan alun-alun arah menuju jalan ABC. Tepatnya di Jalan Banceuy.

tante-diana-medan

Kami sedang melepas lelah sebentar setelah hampir setengah jam keliling menyusuri kota bandung. Tiba-tiba ada mobil sedan berhenti mendekat. Lalu pintu belakang mobil terbuka dan dari arah dalam ada seorang wanita cantik berkacamata gelap, lalu menggeser kacamatanya  ke atas alisnya. Dia menanyakan jalan  ke arah hotel Savoy. Saat aku tunjukkan arahnya, teman-teman satu mobilnya (rupanya wanita semua, setelah kaca depan terbuka) pada saling sahut “Maaf ya mas kami baru kali ini ke Bandung, jadi masih nyasar-nyasar”. Sepertinya mereka habis menghabiskan malam entah dugem di mana. Soalnya ada salah seorang yang tertidur di jok belakang. Jumlah mereka semua berlima, salah seorang memegang setir. “Terima kasih mas”, sang wanita yang terlihat paling cantik itu berlalu. “Sama-sama, tantee…”, sengaja aku panggil tante karena aku tahu seumur dia rata-rata gak mau dipanggil Ibu. Anehnya adalah sambil berlalu dia masih melambaikan tangan, dan entah kenapa tiba-tiba dia lempar sebuah kertas. Teman-temanku pada teriak, “Ambil-ambil tuh Ar, special buat lu tuh”

Begitu aku dekati, ada kartu nama tertera cuma nama Diana dan dibawahnya tercantum nomor HP.
Dalam hati “Apa maksudnya ya”. Temen-temenku pun saling sahut, “Dia minta lu hubungi dia vroh”, “Lu mau dikasih hadiah tuh Ar”, sahut lainnya…. Ah masa bodo amat…
Tapi sampe sore hari aku masih mikirin banget itu kartu nama, sehingga saat jam 5 sore aku coba iseng telpon ke nomor yang tertera, “Halo, dengan Tante Diana?” Dan di seberang langsung menyahut, “Iya saya sendiri, dari mana?”. ‘Saya Ardian tante, yang tadi pagi ketemu di deket alun-alun” “Oh ya, yang lagi pada sepedaan ya?” “Betul, tante..” Karena tiba tiba terdengar di seberang ada bunyi ketokan pintu, dia minta tolong untuk menutup telepon dulu, dia bilang “Aku nanti pasti call balik kamu ya Ardian, tunggu 15 menit ya”

Ternyata benar, kurang lebih 10 menitan ada telpon balik dari Tante Diana ini. Pembicaraan pun berlanjut. Rupanya Tante Diana sudah di Bandung selama 3 hari bersama rombongan ibu-ibu pejabat dari Medan ada acara study banding. Menurut rencana siang hari besok rombongan tersebut akan kembali ke Jakarta, tapi Tante Diana berniat masih tinggal satu atau dua hari lagi, alasannya mau nengok salah seorang rekanan. Sebelum ibu-ibu bertolak kembali ke Medan, maka Tante Diana akan sudah tiba di Jakarta bergabung dengan rombongan tersebut.

Malam itu dia mengundangku untuk makan malam di hotel Savoy. Segera aku menuju hotel tersebut, langsung aku menuju ke lantai 5, ke kamar 509 tempatnya menginap. Hatiku berdebar debar juga saat kuketuk pintu kamar tersebut, tak lama kemudian pintu terbuka dan tiba-tiba aku lihat sesosok wanita cantik cuma pakai baju tidur tank top warna cerah dengan hiasan beberapa kembang di kainnya. Wajah cantik yang aku lihat pagi hari tadi di mobil, semakin terbuka aura kecantikannya saat berpakaian minim seperti ini. Dadaku makin berdebar saat dia mempersilakan aku duduk tapi sambil memegang dan mengelus lenganku yang sore itu aku mengenakan kaos oblong khas bandung. Dia meraih jaket yang sedari tadi aku tenteng sejak masuk hotel, lalu menaruhnya di kursi. Aku duduk di sofa kecil yang ada di kamar itu. Sekonyong-konyong dia merengkuh kedua tanganku dan mendekap. Dan berbisik, “Kamu gak keberatan kan kalo kamu menemaniku malam ini?” Dadaku makin berdegup kencang, tiba-tiba dia bilang “kamu gugup ya, udah tenang aja, aku mau bikin kamu enak kok malam ini, jangan gugup ya”. Tante D ini langsung menciumi aku benar-benar seperti sedang keranjingan sesuatu.

Setelah beberapa saat kami tenggelam dalam pelukan dan ciuman , direnggang-kan pelukannya, dipandanginya aku sepuas-puasnya, nampak kecantikan Tante Diana dan body nya yang sangat ideal ini memang sangat menggairahkan. Tubuhnya padat berisi ditutup baju tidur tipis yang tembus pandang. Tanpa banyak bicara dia melepas baju dan pakaian dalamnya, sehingga tak sehelai benangpun melekat pada tubuhnya, lalu dia baringkan badannya di atas tempat tidur telentang menghadapku.

Dia memberi isyarat untuk segera melepas pakaianku, begitu kulepas celana jeansku, tinggal celana dalam, dia masih memintaku melepas celana dalam. Dan begitu celana dalam  kulepas, maka tugu monasku langsung mencuat tegak berdiri. Dia menyuruhku untuk menciumi memeknya, akhirnya aku dengan sedikit gamang mulai menciumi memeknya dengan jilatan-jilatan lidahku. Dari erangan yang  kudengar; terdengar merdu dan indah di telingaku, menambah gairah dan hasratku. Aku bangkit dan jongkok tepat di dekat mukanya, segera kusorongkan penisku ke mulutnya, tanpa kuminta Tante Diana segera memegang penisku dengan kedua tangannya dan memasukkan ke mulutnya.

ML%2BDengan%2BPacar%2B%282%29

Dihisap dan kadang pelan digigitnya penisku, sehingga semakin mengeras dan tegak. Segera kuputar posisi tubuhku, dalam posisi tengkurap menindihnya, kujilati memeknya, sementara penisku terus dikulum dan dijilatinya. Pada akhirnya, Tante Diana tak tahan lagi. Dia memintaku untuk segera memulai permainan. Dipegangnya penisku dan dibimbingnya masuk ke liang vaginanya, penisku segera bergerak cepat dan keras menghunjam memeknya. Kami bercumbu benar-benar seperti kuda binal, diangkat tinggi-tinggi pantatnya, menyambut serbuan penisku yang menyentak dengan keras dan cepat.

Kepalanya bergerak-gerak kiri-kanan, kadang mendongak, tak henti-hentinya terdengar erangan dan pekikan kecil dari mulutnya, saat hunjaman kontolku terasa nikmat olehnya. Batang penisku yang keras menggesek dinding dalam vaginanya berirama dan cepat. Hingga sesaat kemudian terasa kontolku disiram oleh cairan memeknya saat orgasme dicapainya. Aku teruskan gerakan pantatku, yang terus mendorong dan menarik kontolku keluar masuk memeknya. Tempat tidur menjadi berantakan nggak karuan, bantal guling sudah berserakan jatuh di lantai, keringat keluar deras dari pori-pori kulitku, menetes jatuh membasahi tubuhnya.

Kami bercumbu sambil bergulingan, kadang aku di atas menindihnya, kadang dia di atas menduduki tubuhku. Sampai akhirnya denyutan di kontolku semakin terasa, kupercepat genjotanku.., akhirnya dengan hentakan keras dan geraman mulutku tercapailah klimaks. Kusiram memeknya dengan air maniku, kutekan penisku dalam-dalam ke memeknya. Tante Diana memberiku kesempatan sejenak untuk menuntaskan klimaksku, sesaat kemudian dibaliknya badanku telentang, serta merta digerakkan pantatnya hingga penisku yang masih tegang menggesek dinding vaginanya, semakin cepat dan keras dan sesaat kemudian orgasme yang kedua dicapainya.

Dipeluk erat tubuhku, mulut kami saling berpagut dalam ciumann yang panjang. Lidah kami tak henti-hentinya beradu.., pokoknya kami benar-benar menikmati senggama kami dan melampiaskan hasrat kami. Tubuh Tante Diana tetap menindihku. Penisku tetap kubiarkan di dalam memeknya, anehnya walau sudah kumuntahkan air maniku tapi kontolku tetap berdiri meskipun tidak sekeras tadi, sekali-kali kudenyutkan sehingga gerakan kontolku terasa oleh Tante D. Tante D membalas dengan mengejan, sehingga terasa kontolku seperti ada yang meremas.

Begitu berkali-kali kami lakukan, sampai akhirnya kontolku mengeras dan mengeras lagi. Kurobah posisi tubuh kami, kuatur posisi tubuhnya dalam posisi nungigng, dan segera kembali kontolku beraksi menghujani memeknya. Erangan dan pekikannya terdengar keras tak ditahan. Diputar kepalanya dan kedua tangannya meraih mukaku, kembali kami berciuman hangat dan mesra, genjotan penisku terus berlangsung. “Oh..eghm..ough..aah..aah..terus..teruus..ardian..ough.. ooh..enaakk.. eghm..ardian sayang…aku mau lebih lama lagi yaa….” kubuat Tante Diana, mabuk kepayang, merintih, mengelinjang-ngeinjang tubuhnya hingga orgasme dirasakan kembali olehnya.

Aku baringkan tubuhnya dalam posisi miring, dari belakang dan dalam keadaan kakinya menutup, terus kugenjot keras memeknya. Terasa olehku penisku dijepit oleh gumpalan-gumpalan dinding vaginanya. Beberapa saat kemudian aku duduk bersimpuh, Tante D menghadap dan memelukku. Digerakan pantatnya naik-turun, sehingga penisku bebas keluar masuk menggesek dinding vaginanya. Mulutku terus mengulum payudaranya, dia benar-benar merasakan nikmat yang luar biasa.

Semakin lama-semakin menggila gerakan tubuhnya, kepalanya seringkali mendongak ke atas disertai lolongan hysteria.. “Oooh.. oh.. enaak.. Ardiaaaan.. ough.. ayooo  aku mau sekarang ya sayang …ooooogh”, tiba-tiba dipercepat gerakan dan mulutku dilumat oleh mulutnya, eghmm..eghmm..dan tercapai lagi orgasme olehnya. Cairan vaginanya yang hangat mengguyur batang penisku. Kubiarkan sebentar Tante Diana menikmati orgasmenya, kemudian kubaringkan lagi tubuhnya dan kubuka pahanya lebar-lebar.

Kutindih tubuhnya dan kuserbu memeknya dengan hunjaman dan sentakan kontolku. Keras dan cepat gerakanku..akhirnya denyutan kontolku terasa, kupercepat.. dan semakin cepat.. Lagi-lagi Tante D merasakan sentakan-sentakan keras di dinding memeknya, malahan mengimbangi gerakanku. Aksiku itu berlangsung cukup lama, hingga akhirnya diapun merasakan kenikmatan yang luar biasa dalam senggama itu, hingga kami berdua menrcapai orgasme bersama.

Kurebahkan badanku disampingnya, Tante D merebahkan kepalanya didadaku, kaki kanannya disilangkan di atas perutku, terasa memeknya yang hangat dan berlendir menempel di perutku. Mulut kami saling berpagut, melumat dan memainkan lidah. Benar-benar kami berdua saling menumpahkan rasa rindu dan cinta. Enggan rasanya aku mengakhiri moment itu.

Sesaat kemudian dia bangkit dan segera menghampiri pesawat telepon. Segera Tante D memesan makanan Steak daging dan tak lupa pula dia menambah pesanan-nya dengan dua butir telor setengah matang dan segelas susu segar untukku. Untuknya dipesannya salad dan roti tawar serta segelas air putih. Setengah jam kemudian pesanan datang. Saat itu kami baru saja bercumbu kembali, penisku baru beberapa kali menghu-jani memeknya. Dengan agak terpaksa, kucabut kontolku, segera aku melompat bangun dan mengenakan piyama, pintu kamar kubuka sedikit dan segera kuterima pesanan tersebut, sambil tak lupa sekedar tip buat pelayan hotel itu.

Kami makan di atas ranjang, tanpa busana. Bergantian kami saling menyuapi, kadang-kadang mulut kami berpagutan, makanan yang sedang kukunyah aku pindahkan ke dalam mulutnya, demikian bergantian. Kami bereskan tempat makan dan sisa makanan, dan sesaat kemudian tubuh kami mulai bercumbu, bergumul dan bercinta kembali. Saat itu aku baru menyadari bahwa undangan makan malamnya memang benar-benar lain dari yang lain

Kami benar-benar tak mau banyak kehilangan waktu. Kami bercinta hingga waktu lewat tak terasa sudah gelap. Kami turun dari pembaringan untuk mandi, bersama-sama kami menuju ke kamar mandi, sambil bercanda kami mandi bersama.

Kami berendam bersama di bak mandi bath tube dengan air yang hangat, air di bak bath tube diberinya sabun cair hingga berbusa banyak, baunya lembut dan wangi. Kubasuh sekujur badannya dengan sabun cair yang dibelinya di Singapore. Lembut dan harum baunya, bergantian kami saling menyabuni. Saat dia menyabuni tubuhku, sengaja kontolku diremas-remas. Reaksinya anda pasti tahu. Kontolku kembali berdiri dan mengeras. Segera kudorong tubuhnya hingga bersandar pada dinding bak bath tube . Kubuka pahanya, kutindih tubuhnya dan kudorong masuk penisku ke dalam memeknya.

Di bak bath tube kami kembali bercinta, terdengar bunyi air berkecipak, lehernya kuhujani dengan ciuman bibirku. Di bak bath tube kami bercinta dalam beberapa posisi, dan posisi terakhir yang membuatnya mencapai orgasme adalah posisi dimana aku telentang menyandar dinding bath tube dan Tante D aktif mengerakkan pantatnya naik-turun mengocok penisku keluar masuk memeknya. Kedua tangannya memegang bahuku, sementara tanganku meremas-remas pantatnya, kedua buah dadanya kuhisap dan kujilati dengan mulut dan lidahku. Posisi menunggang kuda seperti itu benar-benar membuatnya nikmat.., hingga dua kali dia mencapai orgasme. Kuangkat berdiri tubuhnya, satu kakinya aku tumpangkan di atas dinding bath tube , dari belakang kuhunjamkan kontolku dan kuhentak cepat dan keras.

Denyutan kontolku semakin terasa, erangan dari mulutnya semakin keras saat kupercepat gerakan penisku menggesek dinding vaginanya. Sekali lagi Tante D mencapai orgasme, dan akhirnya air maniku tertumpah dalam memeknya, mengiringi klimaks yang kucapai. Kembali kami berendam, tanganku mengosok memeknya untuk membersihkan liang sengamanya dari air maniku, penisku dibersihkan Tante D dengan menggosok lembut. Selesai mandi kukeringkan tubuhnya dengan handuk lembut yang dibawanya. Saat aku mengeringkan memeknya, dengan lembut dan mesra memeknya kujilati.

Begitulah malam senin itu kami habiskan untuk duel di ranjang seolah tiada henti. Paginya aku pamit dan kembali ke kosan. Tapi dia bilang, “Besok malam aku tepon kamu ke sini lagi ya Ardian, karena lusa aku harus ke Jakarta”, “Baik tan…” “Aah ga usah panggil tante, panggil aja sayang atau honey” “Baik sa sayang, honey…” Dia pun tertawa sambil menciumiku berkali-kali. Aroma parfumnya benar-benar bikin lelaki pengin selalu mendekat  ….

Pagi itu aku jadwalku ke kampus jam 11 pagi, untuk bimbingan skripsi plus 2 sks mata kuliah . Karena skripsiku tinggal revisi  saja, jadi tidak ada hal yang berarti. Dan sore jam 4 aku sudah kembali ke kost. Seperti biasa aku melepas penat sambil dengarin musik, tiba-tiba sekitar jam 5 ada telpon masuk ke ponsel. Dari Tante Diana. Rupanya dia sedang bertandang menginap di area Cihampelas tempat koleganya. Ngobrol beberapa menit dan sebelum menutup telepon dia masih juga tidak lupa mengingatkan “Ardian besok sore jangan lupa ke Savoy lagi ya. mau dari pagi juga boleh.. Soalnya besok hari terakhirku di Bandung. Jangan sampai lupa ya” Aku bilang besok masih ada kuliah, paling bisa sore ke Savoynya…

Malam selasa aku menyelesaikan beberapa perbaikan skripsi dan mengeprint ulang beberapa lembar  yang harus diperbaiki untuk aku ajukan kembali ke dosen pembimbing. Selasa pagi harinya, kuliah mulai jam 9 pagi sampai jam 1 siang. Setelah itu aku ke dosen pembimbing menyerahkan hasil perbaikan. Tapi tetap saja masih ada beberapa yang harus diperbaiki lagi. No problem lah, tinggal perbaikan ini, jadi tidak terlalu menyita energi dan pikiran. Saat masih di ruang pembimbing, hpku bergetar, aku cuekin saja, gak enak di depan dosen pembimbing buka-buka hp. Tapi karena bergetar terus, rupanya Pak Rudy Dosen Pembimbingku menyadari bahwa ada yang meneleponku berulang-ulang. “Sudah angkat saja dulu teleponmu, siapa tahu itu berita penting dari Ibumu atau keluargamu”, kata Pak Rudy.
“Maaf ya pak, mohon ijin saya keluar sebentar” “Iya silakan”.
Aku buka hapeku, ternyata Tante D yang telepon. “Iya tante” “Ardian, jam 5 aku tunggu di room yg kemarin yaa” “baik tante..”… “Kamu masih di kampus ya, rajin banget sampai sore” “Iya maaf tante masih bimbingan…” “Oh okay good  luck ya” “Thanks tante”

Aku pun kembali ke ruangan Pak Rudy, “Maaf pak, bapak jadi terganggu” “Dari keluargamu? Gak ada apa-apa kan?” “Iya pak, dari tante cuma ngabari mau ke Jakarta” sahutku sedikit menutupi yang sebenarnya.

Selesai bimbingan aku bergegas kembali ke kosan dan bersih-bersih mandi….dan  langsung ke Savoy   menuju ke ruang 509. Begitu kuketuk pintu, aku sedikit kaget karena dari dalam Tante D cuma pakai handuk  dan begitu kututup pintu, Tante D langsung menghambur mendekap dan melucuti pakaianku sampai benar-benar tak ada sehelai benangpun di tubuhku. Dia meniumi dan menjilati leher dan dadaku sambil mendesah “Ardian, kamu harus memuaskan aku ya malam ini… ” Dia lalu menyeretku ke kamar mandi dan mengajak bermain di bath tube. Saat itu bath tube   hanya terisi air tidak sampai setengah. Kami benar-benar menghabiskan waktu di bath tube dengan ciuman dan saling menjilati tubuh, puting susu dan semua bagian tubuh. Aku coba menyelam sedikit untuk menjilati memeknya, Secara bergantian tante D pun berusaha mempermainkan penisku di dalam air dengan lidahnya. Akhirnya tibalah saatnya dia meminta aku berbaring di bath tube dan dia menungangiku. Penisku sudah berdiri kencang pun dia pegang dengan erat lalu disorongkan ke dalam memeknya yang sudah mekar dari tadi saat kuciumi berkali-kali. Erangannya pun mulai terdengar mendesah kecang “Ohhh uhh ardian….ooohh…ayo ardian aku mau yang lama yaa.. ooooooh …..jangan keluar dulu yaaa aku maunya 2 jam begini” Sambil mendekap dia masih menaikkan dan menurunkan pinggulnya di atas penisku yang sellalu berdiri menyambut lubang memeknya… Kami bergantian posisi di atas dan di bawah, kadang kami  sama-sama duduk .

Berikutnya ganti Tante D minta kita bermain di Closet duduk agar tidak bosan. Sambil mengeringkan tubuhku, saat Tante D mengeringkan selangkanganku dikulum dan dihisap penisku. Aku memejamkan mata menikmati apa yang Tante D perbuat. Kami benar-benar menikmati apa yang saat itu kami lakukan, tak terlintas rasa sesal atau dosa atas perbuatan kami tersebut. Selesai mandi kubopong badannya dan kubaringkan ditempat tidur, kembali mulut dan lidahku menghujani memeknya dengan ciuman dan jilatan-jilatan yang memabukkan. Kami bermain berronde-ronde malam itu… karena tante D ingin malam terakhir di bandung ini aku memuaskan hasratnya.
Karena itulah sebelum aku ke Savoy aku sudah minum obat kuat khusus lelaki, berharap aku bisa tahan beberapa ronde lebih lama dari yang tempo hari sebelumnya. Hingga malam larut tante D masih merengek-rengek… masih mau menjilati sekujur tubuhku….
Hingga akhirnya tak terasa kami sudah tertidur saling berpelukan tanpa sehelai beangpun, kecuali selimut.

Terbangun dari tidur menjelang pagi tante D masih saja mengajak bermain di kamar mandi. “Ardian, kita satu ronde lagi yuk di kamar mandi, aku masih pengin penismu kasih penetrasi ke dalam sini yah” kata tante D sambil membuka bagian memeknya yang merekah.  Akhirnya kami habiskan satu ronde perpisahan di kamar mandi. Tante D benar-benar seperti orang yang gak pernah puas dengan nafsu dan libido seks nya. “Ardian terima kasih ya kamu benar-benar lelaki perkasa yang belum pernah aku dapatkan sebelumnya” “Memangnya suami tante gak perkasa?” aku iseng memancing dia “Perkasa, tapi tetap kamu lebih perkasa” “Ah tante terlalu berlebihan” “kamu selalu deh masih panggil aku tante tante” “I iya sayang…” “Nah gitu dong”

Kami pun segera mandi, setelah itu kami berpakaian, Tante D membuka kopernya dan mengambil satu bungkusan untuk kemudian diberikannya padaku, saat kubuka bukan main senang hatiku, dibelikannya aku 2 stel baju mahal, dan sepasang sepatu ber-merk.  Segera kukenakan baju dan celana pemberiannya, memang nampak pas betul model dan ukurannya dengan badanku. Kupeluk dan kucium Tante D sambil tak lupa kuucapkan terima kasih padanya. Sebelum kami keluar kamar, dibuka tasnya dan diberikan padaku sebuah kotak kecil terbungkus rapi kertas kado. Segera kubuka, dan ternyata sepasang arloji merk SEIKO dengan model yang cantik.

Kukenakan jam tangan wanita pada tangannya dan sebaliknya Tante D mengenakan jam tangan laki-laki di tanganku. Kembali kami berciuman dengan mesra. Tiba-tiba terdengar telpon berdering, kulepas pelukanku dan kuraih gagang telepon. Terdengar suara resepsionis di seberang, memberitahu kalau pesanan taksi sudah tiba. Kami memang berencana jalan-jalan dulu sebentar sebelum checkout jam 12.  Secara kebetulan hari itu aku tidak ada jam kuliah. Sebetulnya ada bimbingan skripsi tapi aku sudah minta ijin ke Pak Rudy by phone. Kami berdua segera turun, tak puas-puas aku memandang Tante D. Sungguh anggun dan cantik sekali dan serasi betul dengan baju yang dikenakannya. Aku benar-benar beruntung menjadi “kekasih part time” nya. Kami makan malam di rumah makan TIZI’S di dago, sambil menikmati life musicnya.

Kemudian kami berjalan-jalan di BIP, banyak orang memandang kami berdua. Jam 11 kami sudah tiba di hotel Savoy lagi untuk segera Checkout dan langsung ke Stasiun Bandung naik kereta ke Gambir. Tante D minta aku mengantarnya sampai Jakarta. Perjalanan kereta kami gunakan sepenuhnya untuk istirahat tidur setelah kelelahan semalam.

Sesampai di stasiun Gambir segera kupanggil taksi untuk mengantar kami ke hotel tempat rombongan menginap. Pukul 16.45 WIB kami tiba di hotel. Tante D kuantar hingga ke lantai dimana kamarnya berada. Kebetulan lift kosong hanya kami berdua, kesempatan itu kami pergunakan untuk berciuman, seolah tak ingin kami berpisah. Kubiarkan pintu lift menutup kembali, walaupun sudah sampai di lantai tujuan, bahkan segera kupencet tombol ke lantai teratas. Di balkon lantai teratas yang sepi kami kembali berpelukan dan berciuman. Tiba saatnya kami harus berpisah.

Berat nian perasaanku melepas Tante D kembali ke Medan. Tak terasa air mataku bergulir jatuh, nampaknya Tante D juga sangat kehilangan. Didekap dan dipeluknya tubuhku erat-erat, diciumi wajah dan mulutku. Perlahan direnggangkan pelukannya, mulutnya sudah tak kuasa lagi mengucapkan sesuatu, air mata nampak deras mengalir dari pelupuk matanya. Dibuka tasnya dan diambilnya sejumlah uang serta diselipkan dalam saku bajuku. Aku menahan tangannya dan kuminta untuk jangan memberiku uang seperti itu. Kupaksa dia menerima kembali uangnya dan segera kupeluk erat lagi tubuhnya dan kucium mulutnya.

Akhirnya kulepas pelukanku dan aku bisikan ucapan selamat jalan. Kembali kami bergandengan menuju lift untuk turun ke lantai kamarnya, pintu lift terbuka dan segera Tante D keluar. Kuantar Tante D dengan pandanganku hingga ke pintu kamarnya. Diketuknya pintu kamar dan sesaat kemudian pintu terbuka, seorang wanita sebaya dengan Tante D terlihat dan sesaat kemudian Tante D hilang dari pandanganku, masuk ke dalam kamarnya.

Aku pun kembali ke Stasiun Gambir utk menuju kembali ke Kota Kembang tempatku menghabiskan 4 tahun terakhir berkutat dengan dunia kuliah.  Kereta Parahyangan berjalan meninggalkan stasiun Gambir menuju Bandung. Hatiku masih merasa sedih dan kehilangan dengan kepergian Tante D. Meski hanya sebuah pertemuan singkat, tapi sangat berkesan.  Mataku memandang jauh keluar jendela dan pikiranku melayang entah kemana, melamunkan kembali saat-saat aku bersama dengan Tante D. Meski dia berjanji jika suatu saat ke bandung atau ke jakarta, dia akan menghubungiku. Tapi itupun entah kapan. Biarkan waktu mengalir, seperti mengalirnya lamunanku di kereta Parahiyangan ini.

Demikianlah sepenggal Cerita Dewasa Pertemuan tidak sengaja dengan Tante Diana Asal Medan

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *